10 Agustus 2022
Home doesn’t feel like home. It’s always empty. But, finally I found a reason to leave.
Ini merupakan kali pertamanya aku merantau, pergi jauh meninggalkan pulau
Jawa menuju ke ujung timur Indonesia. Pekerjaan baruku mengharuskan aku untuk bekerja
selama 90 hari atau sekitar 3 bulan lamanya. Bagiku tak masalah, walaupun aku
tahu di manapun aku berada masalah baru pasti akan datang. Setidaknya aku
berharap masalah yang datang adalah masalah yang baik, sehingga membuatku
berkembang. Toh, tidak semua masalah itu selalu negatif, sebab di setiap
masalah selalu ada solusinya. Di setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Trouble
is a friend, begitu katanya.
Untuk seorang anak broken home sepertiku, kesempatan bekerja di remote
area merupakan sebuah golden ticket. Aku bisa pergi meninggalkan
rumah, dibayar dan diperlakukan secara manusiawi (mudah-mudahan). Mulai dari
diberi tempat tinggal, makanan gratis, serta fasilitas yang memadai seperti klinik,
kantin, ruang olahraga, lapangan, dan lain sebagainya. Luar biasa bukan!
Selain skill dan pengalaman,
aku pun dibayar berdasarkan waktu bekerja yaitu 12 jam dengan 2 jam istirahat, dan
tanpa libur di hari Minggu. Bahkan di tanggal merah pun seperti 17
Agustus atau perayaan agama, kami tetap bekerja seperti biasa. Namun semua itu
tergantung pada kebijakan kantor masing-masing, dan kantorku memberlakukan Hari
Fatigue yang hanya berlaku setiap 2 minggu sekali untuk day off atau
libur.
Berada di site tidak memungkinkan aku untuk pergi keluar dari wilayah. Pagar-pagar
memisahkan kami dengan satwa liar, hutan dan laut. Terkadang ada waktu dimana beberapa
satwa berkeliaran di area site. Ada burung flamingo, bangau, gagak, meraki,
burung hantu, dan spesies burung lainnya yang tinggal di tanah Papua ini. Oh,
ya.. satu-satunya akses untuk keluar dari site ini adalah dengan melalui area BOF,
menyebrang menggunakan kapal. Atau jika ada case emergency mungkin bisa
dengan helikopter.
Dari Jakarta dibutuhkan sekitar 8 jam untuk bisa sampai ke site dan begitupun sebaliknya. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Domine Eduard Osok, kota Sorong, yang memakan waktu sekitar 4 jam. Dari Sorong kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat kecil menuju bandara Babo, perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Setibanya di Babo kami akan di antar menuju pelabuhan dengan menggunakan mini bus. Sebuah kapal berukuran sedang yang bertengger di tepi akan menjadi alat transportasi kami selanjutnya untuk 2 jam kedepan, berlayar menyusuri teluk Bintuni. Di tengah perjalanan semua sinyal seluler akan menghilang, hingga setibanya di Tanah Merah pun sinyal tersebut akan hilang timbul, yang menandakan bahwa hidupmu dalam 90 hari kedepan, di tengah teluk dan hutan ini akan mengalami sejumlah keterbatasan. Kami terisolasi dari kehidupan luar. Walaupun susah sinyal, syukurnya di tempat-tempat tertentu mereka menyediakan fasilitas wifi yang dapat diakses siapapun. Cuma.. bandwith-nya dibatasi. Syukur-syukur masih bisa Whatsapp-an. Untuk buka sosial media atau Youtube, mereka yang kesabarannya setipis tissue sebaiknya cari alternatif lain, seperti pergi ke kantor dan memanfaatkan internet dengan akses LAN yang sudah disediakan di meja masing-masing. Jika malam telah tiba, kau kan temui banyak orang yang masih duduk di kursinya masing-masing. Dan percayalah mereka tidak sedang gila kerja (walaupun ada juga yang kerja karena dateline). Sebagian dari mereka sedang memanfaatkan akses internet tersebut, sambil lembur tipis-tipis.
Seorang pernah berkata bahwa tempat ini adalah tempat yang cocok untuk seorang introvert. Dan aku sependapat dengannya. Di sini sunyi, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, bergerak cepat seperti robot, hanya mungkin di malam hari saat sebagian dari mereka pulang kantor, beberapa spot terisi dengan sekumpulan manusia. Ada yang menikmati malam dengan nongkrong sambil ngobrol di bangku-bangku taman, menikmati live music, ngerokok di shelter tertentu, atau berolahraga di sekitaran site. Juga mungkin party di dalam kamar camp sambil menyetel musik keras-keras. Bagaimana dengan kegiatan malamku di site?
Tidak ada yang spesial, sama seperti
yang lainnya. Sepulangnya dari kantor pada pukul 6 sore aku akan bergegas
menuju ke messhall untuk menyantap makan malam. Lalu pukul 6.30 sore aku
kembali ke camp untuk melaksanakan shalat magrib dan menunggu tibanya waktu
shalat isya. Sekitar jam 7.30 atau jam 8 aku akan keluar, terkadang jogging,
main badminton, atau jalan-jalan santai bersama dengan kawan-kawan. Juga ada
kalanya aku menghabiskan waktu semalaman di kamar sambil nonton drama korea,
baca buku, atau main game. Sampai pada pukul 10 malam aku akan bersiap-siap
untuk tidur, mengisi energiku kembali agar esok dapat berkerja dengan keadaan
yang fit.