Pada malam hari di musim penghujan, bulan Oktober 2016. Bagi
setiap orang tidur merupakan sebuah penawar, sebuah kesempatan yang perlu
disyukuri. Namun siapa sangka bahwa tidur bisa menjadi sebuah mala petaka yang
tak ingin dihadapi. Hujan yang turun dengan deras disertai dengan gemuruh
menjadi pengantar suara yang menakutkan untuknya. Dia tidak seperti kebanyakan
orang yang justru memanfaatkan hujan sebagai pelengkap tidur. Yang bisa ia
lakukan hanyalah menunggu hujan reda sambil bersembunyi di dalam selimutnya, memasangkan
headset dalam dalam hingga yang terdengar hanyalah
suara NGIIING~ yang mendengung di telinganya. Rasa kantuk yang tak tertahankan seakan-akan menjadi
sebuah penderitaan tak berujung. Ia terjaga dan bersikeras untuk tetap membuka mata.
Bayangan gelap tiba-tiba datang mengelilingin seluruh
penjuru kamar. Kini ia terjebak di dalam sebuah ruangan tanpa cahaya, hitam dan
pekat. Nafas di dadanya menjadi berat dan sesak. Seluruh tubuhnya pun terkunci.
“ada apa ini?” tanyanya panik. “ah, jangan-jangan..”
Ia berusaha tenang, memilih untuk tidak berontak dan
membiarkan mimpi itu membawanya pada sesuatu yang besar, hitam, dan mengerikan.
Sebelum ia mengetahui bahwa dirinya mengidap suatu penyakit gangguan tidur—ketindihan
atau bahasa ilmiahnya sleep paralysis[1],
ia mengira bahwa makhluk yang berkeliaran di kamarnya itu merupakan
penghuni sesungguhnya yang berasal dari dunia lain. Ia juga sempat berpikir
mungkin dirinya memiliki indera keenam. Kejadian tersebut berlangsung selama
bertahun-tahun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi, bertanya pada
ahlinya. Ternyata, makhluk-makhluk aneh yang dilihatnya selama ini merupakan bentuk
dari halusinasinya. Begitu katanya. Setengah dari dirinya mempercayai ucapan
beliau tersebut dan setengahnya lagi merasa
bahwa mimpi tersebut terlalu nyata untuk diabaikan sebagai sebuah bunga tidur.
Jika berontak, tubuhnya akan terguncang. Berdzikir pun
malah membuat makhluk itu berteriak lebih kencang. Namun, mengingat kematian
bisa saja menyerangnya, ia memilih untuk terus melantunkan ayat suci yang
dihapalnya, tak peduli dengan sahut-sahutan mereka yang seolah kepanasan. Entahlah,
kejadian tersebut sulit untuk dijelaskan.
Tiba-tiba setitik cahaya muncul. Terlihat sesosok makhluk
serba hitam berdiri membelakanginya di tengah ruangan. Ia tak pernah bermimpi
seperti ini sebelumnya. Bahkan ia khawatir mungkin
ini bukanlah sebuah mimpi, melainkan makhluk yang berada di hadapannya
adalah malaikat maut yang diutus untuk menjemputnya. Sekelebat ia teringat
dengan wajah orang-orang yang ia cintai. Mana tahu kapan kematian akan datang,
tapi ia merasa belum siap. Semua ini terasa begitu mendadak.
Makhluk itu tetap terdiam di tempatnya. Ia kemudian bersiaga.
“assalamu’alaikum”
Hening. Makhluk
itu tak menjawab.
Dengan pelan ia melangkah mundur, berusaha menjauh dari
makhluk tersebut. Tapi sesuatu membuatnya terjatuh
dan membuat pandangannya buyar. Matanya menyipit. Silaunya lampu
kamar menyadarkannya dari mimpi buruk
tersebut. Ia bernafas lega. Akhirnya
ia dapat terbangun.
“Ya Allah.. syukurlah hamba masih diberikan kesempatan
untuk hidup.” Katanya, sambil
mengusap wajah. Tak henti-hentinya ia berkomat-kamit mengucapkan syukur, “alhamdulillah..alhamdulillah.”
Jam dinding baru menunjukkan pukul 03.10 dini hari. Waktu
dimana malaikat turun dari langit, diutus untuk menyebar ke bumi. Malaikat
subuh, begitu julukannya. Entah berapa lama sesuatu itu menahannya di dalam
mimpi, tapi ia memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya karena setelahnya
mungkin akan ada serangan kedua dan seterusnya. Pikirnya, lebih baik terjaga
daripada harus tidur dan terkujur dengan perasaan was-was.
Footnote 1: Sleep paralysis atau ketindihan adalah kondisi ketika seseorang dalam keadaan setengah tertidur namun tidak dapat bergerak dan berbicara, seolah lumpuh. Bahkan pada khasus tertentu penderita dapat merasakan peristiwa aneh, mistis, dan terkesan nyata yang sebenarnya adalah sebuah halusinasi.