Di suatu siang di bulan Juni 2022. Setelah kurang lebih 5 tahun menghilang dan memutuskan kontak dari
setiap orang yang pernah kukenal kecuali keluarga, akhirnya aku memberanikan
diri untuk muncul kepermukaan. Entah apa yang merasukiku sehingga memutuskan
mengaktifkan kembali sosial media yang selama ini menimbulkan masalah insecurity di dalam diri. Well, masalah sebenarnya bukanlah pada platform sosial media tersebut melainkan individu-individu yang terlibat
di dalamnya. Kebebasan berbicara dan berekspresi menjadi begitu menyeramkan
untuk mereka yang melampaui batas. Walaupun hal tersebut tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 45 bahwa; "setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat." Tapi bagi mereka yang merasa paling benar, merendahkan martabat manusia dengan ucapannya, dirasa tak etis lagi bersikap demikian mengatasnamakan kebebasan berpendapat. Padahal tidak semua
ucapan bisa menjadi sependapat mengingat betapa uniknya manusia dengan berbagai
macam kepribadiannya.
Setelah menghilang dari peradaban, pertama-tama yang aku lakukan adalah menulis
sebuah tweet;
I’ve been struggling mentally, aku juga tahu bagaimana rasanya tenggelam. Dan aku sadar, bernafasnya aku sampai detik ini merupakan sebuah anugerah. Kehadiranku di dunia ini merupakan takdir yang harus kujalani. Syukurnya di umurku yang hampir mendekati kepala 3 ini hanya tinggal menunggu waktu saja, yang entah kapan datangnya. Random fact; faktanya 70x malaikat maut datang untuk menemui setiap manusia, sekedar memastikan keadaan setiap makhluk di bumi. Dan bisa jadi saat aku menulis cerita ini mungkin malaikat sedang datang mengunjungiku.
“Assalamu’alaikum wahai Malaikat Allah.. apakah sudah tiba masaku di dunia?” tanyaku, tanpa bermaksud menantang makhluk Allah yang tidak pernah bermaksiat itu. Sedangkan kami… haahh, jangan tanya! Berbuat dosa, tobat lagi, berbuat dosa, tobat lagi seakan yakin hidup sampai besok dan seterusnya. Heran juga rasanya ada orang yang ingin hidup lebih lama, bahkan menginginkan keabadian di dunia. Entah apa yang ada di benaknya. Bagiku dunia ini sungguh mengerikan, tempat terburuk untuk menetap. Makin kesini makin kesana, begitulah. Engkau takkan pernah bisa merasa puas.
Speaking of which, sejauh
ini tidak ada respon, aku merasa aman dan bebas bersuara bahkan Twitter jadi
tempat bermisuh-misuhku dikala bingung mau bercerita pada siapa. Selang beberapa bulan kemudian aku pun
memutuskan untuk mengaktifkan kembali first account Instagram, yang di
dalamnya terdapat follower kawan-kawan lama, dari yang paling akrab sampai
yang cuma sekedar kenal nama. Ini yang menakutkanku, tiba-tiba terbesit rasa
khawatir mengingat kejadian di masa lalu. Namun aku berusaha untuk mengabaikan
perasaan tersebut dan tetap menjadi diriku sendiri. Ya.. aku seperti ini dan
sekarang aku tak peduli dengan ucapan dan penghakiman mereka terhadapku. Ternyata
se-berdampak itu sebuah ucapan yang terlontar dari mulut manusia hingga menjadi
pemicu hancurnya kepercayaan diri dan kreatifitas seseorang. Sialnya, mengapa
pula waktu itu aku terperdaya.
I’m not a good artist. Kalimat itu terpatri di dalam jiwaku.
Menjadikan aku seorang yang hanya berseni di saat mau tanpa mengizinkan dunia
tahu. Kini aku menggambar untuk diriku sendiri. Padahal dengan gambar aku dapat
mengutarakan rasa dan menceritakan suasana: bagaimana hariku? Apa game yang
sedang atau telah aku tamatkan? Dan kejadian-kejadian menarik lainnya yang
hanya ingin aku bagikan bersama dengan sebuah ilustrasi gambar. Semua itu aku
lakukan demi kesenangan pribadi tanpa maksud ingin diapresiasi.
Setelah dipikir-pikir lagi sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar
peduli di dunia ini, kecuali hanya sedikit. Komentar buruk yang terlontar,
semua hanyalah kata yang tak lahir dari nurani, diucap pada waktu tertentu, dan
bersifat situasional. Pada akhirnya para pelaku pun akan lupa dengan apa yang
ia ucapkan. Namun, tidak dengan si penerima komentar. Reaksinya bisa relatif,
ada yang bodo amat, ada yang kepikiran semalaman dan ada yang butuh waktu lama
sampai ia benar-benar bisa berdamai dan menerima dirinya sendiri. Jadi pesan
moralnya apa? Jangan lupa makan, biar bisa hidup. Soalnya life must go on,
kita gak akan pernah bisa mengontrol setiap sikap seseorang terhadap sesama
manusia. (nyambung gak, sih? Maaf INFJ emang serandom ini.)
Sekian.