Secara
naluriah semua makhluk di bumi ini diciptakan untuk dapat bertahan hidup. Begitupun
dengan manusia. Selain dapat bertahan hidup Allah juga menciptakan manusia
lengkap dengan hati dan akal pikiran.
“Hewan juga Allah
beri akal.” sahut seseorang entah dari mana.
“Iya, tapi
manusia itu sungguh spesial. Penciptaan manusia terekam pada Al-Qur’an salah
satunya pada surah Al-Baqarah ayat 30 yang mengatakan bahwa Allah menciptakan
manusia untuk menjadikannya seorang khalifah di muka bumi.”
“Wow,
masyaAllah!”
Manusia adalah
sosok pemimpin, minimal pemimpin untuk dirinya sendiri. Mengontrol apa
yang ada di dalam hati dan pikirannya, serta berlaku adil terhadap dirinya, juga dengan akalnya dapat membedakan mana yang baik dan mana
yang buruk. Dengan akal yang Allah berikan kepada manusia, kami pun dapat belajar
dari apa yang ada di sekitar. Salah satunya adalah dengan mengobservasi
kegiatan hewan yang pada akhirnya dapat diaplikasikan untuk kelangsungan hidup
di dunia. Dari seekor burung, manusia pertama kali belajar untuk menguburkan
mayit. Dari hasil mengamati seekor burung pula manusia terinspirasi untuk bisa
terbang di udara. Tidak ada yang mustahil dan semua itu tak lepas dari kehendak
Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha kuasa.
Apapun
kondisi dan situasinya, dalam keadaan tertekan sekalipun otak manusia akan dipaksa
untuk berpikir; bagaimana ia dapat bertahan hidup dan mencari jalan keluar. Jika
lapar, maka makan. Hanya saja dunia tidak di design sesederhana itu. Untuk bisa
makan manusia harus mencari. Di sinilah akal akan dipergunakan kemudian hati
akan bermain. Apakah manusia akan memilih untuk mencari dengan cara halal atau
haram?
Ah, hampir lupa. Manusia juga diciptakan dengan hawa nafsu. Untuk sekedar mengisi perut mungkin tidaklah begitu sulit, sebab bumi ini terhampar luas dan banyak hal yang dapat dimanfaatkan. Tapi sayangnya hawa nafsu bisa membuat seseorang jadi bersikap serakah. Seperti negeri ini dengan segala sumber daya alam yang ada, yang seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal tersebut tercantum pada Pasal 33 UUD 1945 ayat (3) yang berbunyi; "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat." Tapi sayang.. pada prakteknya bumi ini sudah tergadaikan, menjadi milik asing serta dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir kelompoknya. Semua dilakukan bukan lagi demi mengisi perut yang kosong, melainkan untuk memberi makan ego dan hausnya kekuasaan. (Ups! Maaf jadi melebar topiknya)
Kalau dipikir-pikir
percakapan malaikat yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang perusak,
memang benar adanya. Namun yang mengharukan, Allah dengan rahmatNya yang luas
masih memberikan kesempatan terhadap kami untuk hidup di bumi ini menjadi
khalifah seperti apa yang Allah harapkan. (eh, punten.. ini gak bermaksud ngomongin
pingin bentuk negara khali*beep*)
Allah pun
tahu kami sebagai manusia tempatnya berbuat salah dan dosa. Tidak ada yang
sempurna. Seburuk-buruknya manusia jika ia mengakui perbuatannya dan bertaubat
dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan ampuni seluruh dosanya tanpa terkecuali.
Yang terpenting dari bertahan hidup di dunia ini adalah bagaimana mempersiapkan perbekalan diri sebelum pulang. Syukurnya Allah tidak melihat pada apa yang ada di masa lalu, dan hanya melihat pada apa yang dilakukan kita di masa kini, serta di akhir takdir kehidupan kita. Kira-kira akan seperti apa takdir menjemput kita kelak?
Semua itu cuma kamu yang dapat menentukannya, dimulai dari sekarang mau happy ending atau bad ending.
Sekian cuap-cuap
randomnya.